Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

Uwais Al Qarni, Tabi’in Terbaik

|0 komentar
Mengenal Uwais Al Qarni

Beliau Uwais Al Qarni, memiliki nama kuniyah Abu ‘Amr, nama beliau Uwais bin ‘Amir bin Juz’in bin Malik Al Qarni Al Muradi Al Yamani. Beliau termasuk tabi’in senior, wali yang shalih, hidup pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi beliau masuk Islam, namun belum pernah berjumpa dengan Nabi.  Beliau terhalangi dari melakukan perjalanan ke Madinah, karena baktinya kepada ibu beliau (Hilyatul ‘Auliya 2/87), sehingga beliau tidak dikategorikan sebagai shahabat (karena tidak bertemu dengan Nabi), namun tabi’in. Beliau lahir dan besar di Yaman. Adz Dzahabi berkata mengenai beliau, “Seorang teladan yang zuhud, penghulu para tabi’in di zamannya, termasuk diantara wali-wali Allah yang shalih lagi bertaqwa, dan hamba-hambanya yang ikhlas” (Siyar A’lam An Nubala’ 4/19)

Kisah Uwais Al Qarni dalam Shahih Muslim

Dari Usair bin Jabir beliau berkata, “Adalah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu apabila ditemui oleh gubernur-gubernur Yaman beliau selalu bertanya, ‘Adakah diantara kalian yang bernama Uwais bin Amir?’. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Uwais dan beliau berkata,
‘Engkau Uwais bin Amir?’. Uwais menjawab, ‘Ya’. ‘Dari Murad, kemudian Qarn?’.  Uwais menjawab, ‘Ya’.  ‘Engkau pernah terkena penyakit belang, kemudian sembuh dan tersisa bekasnya sebesar koin dirham?’ Uwais menjawab, ‘Ya’. ‘Engkau tinggal bersama ibumu?’ Uwais menjawab, ‘Ya’.

Umar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Uwais bin ‘Amir akan datang bersama rombongan gubernur Yaman, dia berasal dari Murad, kemudian tinggal di Qarn, dia punya penyakit belang, kemudian sembuh kecuali tersisa bekas sebesar koin dirham, dia punya seorang ibu dan sangat berbakti pada ibunya, andai ia berdoa kepada Allah pasti akan terkabul, maka jika engkau bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun atasmu, lakukanlah’.

Umar berkata, ‘Maka mohonkanlah ampun untukku’. Uwais pun berdoa memohonkan ampun bagi Umar. Umar lantas berkata, ‘Hendak kemana engkau pergi?’. Uwais menjawab, ‘Kuffah’. Umar bertanya lagi, ‘Maukah aku tuliskan surat agar gubernur Kuffah melayanimu?’. Uwais menjawab, ‘Berada di tengah-tengah manusia lebih aku sukai daripada terkenal’. (HR Muslim no. 2542)

Diantara faidah yang dapat dipetik dari potongan hadits riwayat Muslim di atas ialah :
  1. Hadits ini diantara pertanda kenabian yang dimiliki Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang mengabarkan tentang kondisi Uwais, nasabnya, kampungnya, hingga penyakit yang dideritanya, hingga tiba zaman Umar radhiyallahu ‘anhu, persis apa yang didapati Umar dengan yang disabdakan Nabi.
  2. Berbakti kepada kedua orang tua adalah diantara sebab dikabulkannya doa. Marilah bersama kita cermati hal ini, diantara yang membuat ampuhnya Uwais dalam berdoa ialah berbaktinya beliau kepada ibunya.
  3. Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, yang dengannya tercapailah segala kebaikan bagi Uwais.
  4. Tawadhu’, rendah hati, dan betapa bersemangatnya Umar bin Khathab dalam kebaikan, yang ditunjukkan dari sikap beliau yang segera menemui Uwais dan memintakan ampun pada Uwais.
  5. Sikap Umar dalam tatsabbut, memastikan betul-betul bahwa itu Uwais, dengan menanyakan detil kondisi Uwais, sebelum mengabarkan berita gembira Nabi kepada Uwais.
  6. Perhatian Umar bin Khathab kepada orang-orang yang memiliki keutamaan seperti Uwais, yaitu niat beliau untuk menuliskan surat dalam rangka memudahkan perjalanan Uwais.
  7. Disyariatkannya seseorang untuk memintakan ampun baginya, kepada orang lain. Hal ini boleh dilakukan kepada orang yang masih hidup lagi memiliki keutamaan, shalih. Bukan berarti dilakukan kepada setiap orang (tanpa memilah dan memilih keutamaan orang tersebut), sebagaimana yang lazim dilakukan orang saat ini.
  8. Hikmah Allah Ta’ala –wallahu a’lam– dengan menyisakan bekas penyakit belang Uwais sebesar koin dirham, agar beliau tidak lupa akan karunia Allah berupa disembuhkannya beliau dari penyakit tersebut.
  9. Keutamaan menyembunyikan diri, tidak menampakkan diri dan mencari popularitas, seperti yang dikatakan Uwais di akhir hadits.
  10. 10.    Terkadang Allah memberi keutamaan bagi sebagian orang secara khusus. Sebagaimana yang diberikan kepada Uwais, yang tidak diberikan kepada shahabat secara umum. (diambil dari artikel “Khairut Tabi’in Uwais Al Qarni Rahimahullahu Ta’ala”, Syaikh Salim bin Sa’ad Al Thawiil)

Diantara Perkataan Hikmah dari Uwais Al Qarni

Beliau memiliki perkataan seputar khauf (rasa takut) dan muraqabah (merasa diri selalu diawasi oleh Allah) yaitu, “Jadilah engkau seakan engkau telah membunuh seluruh manusia di muka bumi ini tanpa hak” (Al Hakim dalam Mustadrak 3/458). Maksud beliau agar memperbesar rasa khauf dan muraqabah.

Asbagh bin Zaid berkata, “Uwais Al Qarni apabila di sore hari, beliau berkata, ‘Ini adalah malam untuk ruku’ maka beliau ruku’ sepanjang malam hingga shubuh (yaitu panjang shalat malam beliau –pent), beliau juga berkata, ‘Ini adalah malam untuk bersujud’ maka beliau pun bersujud hingga shubuh tiba” (Hilyatul Auliya, 2/87)

Asy Sya’bi berkata, “Seseorang dari Murad bertemu dengan Uwais Al Qarni dan berkata, ‘Bagaimana kabarmu wahai Uwais?’. Uwais menjawab, ‘Kabarku baik, segala puji bagi Allah’. Beliau ditanya lagi, ‘Bagaimana waktumu wahai Uwais?’. Uwais menjawab, ‘Bagaimana kira-kira waktu bagi seorang yang jika sampai waktu pagi, ia mengira bahwa tiada akan dijumpainya sore, dan jika sore tiba, ia mengira tiada akan dijumpainya pagi. Kira-kira, ia akan diberi kabar gembira akan surga, atau neraka, wahai pemuda Murrad! Sungguh kematian dan selalu mengingatnya, tidak akan menyisakan keceriaan bagi seorang mukmin, mengetahui hakikat Allah tidak akan menyisakan harta berupa emas dan perak, dan tegaknya seseorang di atas al haq tidak akan menyisakan seorang pun kawan baginya”. (Hilyatul ‘Auliya 2/83)

Wafat Uwais Al Qarni Rahimahullah

Mayoritas ulama menyebutkan beliau wafat di hari perang Shiffin (37 H), beliau berada di barisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan gugur. (Sumber biografi : Tarjamatu Uwais Al Qarni Rahimahullah, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, artikel www.islamqa.info)

Senin, 14 Januari 2013

Kisah Juraij

|0 komentar

Dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah berbicara ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya: Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada zaman Juraij.

Juraij adalah seorang laki-laki ahli Ibadah, dia membangun sendiri tempat ibadahnya. Ceritanya, pada suatu hari di saat ia sedang solat ibunya memanggil, 'Wahai Juraij.' Juraij berkata, 'Ya Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku atau aku meneruskan solatku?' Juraij meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi.

Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia sedang solat lagi. Sang Ibu memanggil, 'Wahai Juraij!' Juraij mengadukan kepada Allah, 'Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan solatku?' Ia meneruskan solatnya. Lalu ibunya pergi meninggalkan Juraij.

Pada pagi hari Ibu Juraij datang lagi, ketika itu Juraij sedang solat. Sang Ibu memanggil, 'Wahai Juraij!' Juraij berkata, 'Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan solatku?' Tetapi Juraij meneruskan solatnya.

Lalu Ibu Juraij bersumpah, 'Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!'
Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij.

Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang sangat cantik berkata, 'Jika kalian menghendaki, aku akan memberinya fitnah.'

Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan menggodanya. Tetapi Juraij tidak memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan hamil.

Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, 'Bayi ini hasil perbuatan siapa?' Pelacur itu menjawab, 'Juraij'. Maka mereka mendatangi Juraij dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij, mencaci maki dan merobohkan tempat ibadahnya.

Juraij bertanya, 'Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini?.' Mereka menjawab, 'Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.' Ia bertanya, 'Di mana sekarang bayi itu?' Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut.

Juraij berkata, 'Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan solat!' Lalu Juraij solat. Selesai solat Juraij menghampiri sang bayi lalu mencoleknya di perutnya seraya bertanya, 'Wahai bayi, siapakah ayahmu?' Sang bayi menjawab, 'Ayahku adalah seorang penggembala.'

Serta merta orang-orang pun berhambur, menciumi dan meminta maaf kepada Juraij. Mereka berkata, 'Kami akan membangun kembali tempat ibadah untukmu dari emas!' Juraij menjawab, 'Jangan! Cukup dari tanah saja sebagaimana semula.' Mereka lalu membangun tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki Juraij.

Ketika ibu si bayi memangku anaknya untuk disusui, tiba-tiba datang seorang lelaki menunggang kuda yang gagah dan tampan rupa. Maka ibu itu berdoa, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.'

Tiba-tiba bayi itu melepaskan susu ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda tersebut seraya berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.' Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan melanjutkan hisapan susunya."

Abu Hurairah berkata, "Seakan-akan aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam meniru gerakan si bayi dan meletakkan jari telunjuknya di mulut lalu mengisapnya.
Lalu datang serombongan orang membawa wanita hamba sahaya yang sedang dipukul. Mereka menuduh, 'Kamu telah berzina, kamu telah mencuri!' Sementara hamba sahaya perempuan itu berkata, 'Cukuplah Allah sebagai Pelindungku!'

Melihat kejadian ini, sang Ibu berdoa, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.' Maka bayi itu meninggalkan susu ibunya dan melihat ke tempat wanita hamba sahaya tersebut sambil berdoa, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.'

Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata kepada anaknya, 'Di belakangku berlalu seorang penunggang kuda yang gagah dan tampan, lalu aku berkata, 'Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.' Lantas engkau berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.' Lalu berlalu di hadapanku, wanita hamba sahaya dan mereka memukulinya serta mengatakan bahawa ia telah berzina, ia telah mencuri! Melihat hal ini, aku berdoa, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.' Lalu engkau berkata, 'Ya Allah, jadikan aku seperti dia.'

Maka bayi itu menerangkan kepada ibunya, 'Wahai Ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang tampan itu adalah orang yang sangat sombong. Maka aku berdoa, 'Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia!' Sedangkan terhadap hamba sahaya wanita itu, yang orang-orang berkata, 'Kamu berzina, padahal dia tidak berzina, kamu mencuri padahal dia tidak mencuri.' Maka, aku berdoa, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'." [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
  1. Kewajiban birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) terutama ibu, dan bahawasanya jika ia menyumpahi anaknya maka akan dikabulkan.
  2. Allah menyelamatkan seseorang dengan ketakwaan dan keshalihannya.
  3. Jika suatu urusan nampak tumpang tindih, hendaknya mengutamakan yang terpenting kemudian yang penting.
  4. Disunnahkan berwudhu terlebih dahulu sebelum berdoa untuk hal-hal yang genting.
  5. Wudhu sudah dikenal umat dan disyariatkan sebelum Nabi Muhammad.
  6. Penetapan karamah para wali, yang mampu diperoleh melalui ikhtiar atau usaha mereka.
  7. Bersikap lemah lembut dan sayang kepada murid ketika memberikan pendidikan kepadanya.
  8. Orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi kepada Allah tidak mudah termakan fitnah.
  9. Boleh melakukan ibadah yang banyak/secara maksimal bagi yang mengetahui bahawa dirinya mampu.
  10. Orang yang biasa berbuat keji tidak akan memperoleh penghormatan.
  11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan kepadanya suatu tuduhan hendaknya segera menghadap Allah dengan solat.
  12. Menjelaskan keyakinan Juraij yang sangat tinggi begitu pula harapannya kepada Allah untuk memperoleh pertolongan-Nya. Sehingga ketika ia meminta anak bayi berbicara, Allah mengabulkannya. Padahal sebagaimana biasanya yang namanya bayi tentu belum mampu bicara.
  13. Sombong dan membanggakan diri adalah perbuatan tercela, demikian pula orang yang sombong dan zalim, mereka semua dicela.
  14. Orang yang dizalimi mempunyai kedudukan dan kelebihan di sisi Allah. Jika tidak demikian tentu tidak ada kebaikannya seorang anak yang masih menyusu ingin menjadi seorang pembantu yang rendah hati.
  15. Seseorang boleh membatalkan solat sunnahnya manakala dipanggil orang tuanya untuk melakukan sesuatu yang syar'i.
  16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu tuduhan tanpa bukti.
_______________

[1] HR. al-Bukhari, 3436; Muslim, 2550.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat"]

http://akuhamba-allah.blogspot.com/2012/05/kisah-juraij-seorang-ahli-ibadah-dan.html

Selasa, 03 Juli 2012

Tiga Perkara diKabulkan Do'a

|0 komentar
Petikan dari buku :Wasiat orang yang.soleh
Penulis : Abdullah As Sirri.



Ketika Hajjaj Ibnu Yusuf As Saqafi pergi ke kota Basrah,berita kedatangannya telah diketahui oleh penduduk Basrah. Lalu mereka pergi mengadap Imam Hassan Al Basri untuk mengadu. Dan mereka juga mengajak Imam Hassan Al Basri untuk membunuhnya. Dengan tenang Imam Hassan Al Basri berkata: "Anggaplah kamu semua menang dan berhasil membunuhnya. Tetapi ketahuilah di bumi ALLAH ini tidak sedikit orang-orang seperti Hajjaj, bahkan tidak mustahil akan lahir orang yg lebih kejam dan lebih buruk daripadanya".

Mendengar ucapan Imam Hassan Al Basri tersebut, mereka berkata: "Kalau begitu apa yang harus kami lakukan?" "Pulanglah kamu semua! Bersihkan hartamu dari yang haram.Dan kembalikan kepada yang berhak.Bila kalian tidak tahu siapa pemiliknya,bawalah ke masjid untuk bersedekah kpd.orang-orang fakir dan miskin. Dan barang siapa yang memelihara isteri yang haram (perempuan simpanan), hendaklah ia melepaskannya.

Tapi barang siapa yang mampu menjadikannya isteri yang sah, lakukanlah. Dan bertaubatlah kamu kepada ALLAH Azza Wa Jalla. Banyak-banyak ber'itikaf di masjid  beribadah dan membaca Qur'an sehingga ALLAH membuka kesusahanmu. " Pulanglah penduduk Basrah setelah mereka mendengar nasihat Imam Hassan Al Basri. Mereka segera melaksanakan pesanan dan nasihat tersebut.

Tidak lama kemudian datanglah berita bahwa Hajjaj telah pulang. "Aku tahu ia akan segera pulang!", ucap Imam Hassan Al Basri setelah mendengar berita kepulangan Hajjaj. "Bagaimana tuan guru boleh mengetahuinya?", tanya mereka. "Seorang hamba ALLAH jika melaksanakan 3 perkara yang telah aku sarankan, niscaya ALLAH akan memperkenankan doanya". ucap Imam Hassan Al Basri

Pengajaran :

3 syarat doa terkabul ialah :
1-  Bersihkan harta dari yang haram.
2-  Jauhkan diri dan jangan menghampiri ZINA.
3-  Bertaubat selalu.

Senin, 30 April 2012

Kisah Ashhabul Kahfi

|0 komentar
Para Pemuda Beriman yang Berlindung di dalam Gua
        
Para pembaca semoga Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan dalam hati-hati kita keimanan, di antara bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala adalah kisah Ashabul Kahfi, yang didalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita petik, tentunya bagi orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir.

Kisah Ashhabul Kahfi

Saudara pembaca semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan kisah yang agung ini di dalam Al-Qur`an tepatnya dalam surat al Kahfi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk.” (Al-Kahfi: 13)

Mereka adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata, mereka teguh di atas keyakinan yang benar tersebut. Meskipun harus bertentangan dengan mayoritas kaum mereka yang berada dalam kesesatan, dan kesyirikan (menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala).

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan perkataan mereka di dalam firman-Nya:

“Lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru (beribadah kepada) Rabb selain Dia, Sesungguhnya kami kalau demikian (menyeru/beribadah kepada selain-Nya) telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai Rabb-Rabb (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 14-15)

Jumlah Mereka

Adapun jumlah mereka sebagian ahli tafsir menguatkan bahwa jumlah mereka tujuh orang dan yang ke delapan anjingnya, Allah menyebutkan persangkaan orang-orang ahlul kitab tentang jumlah mereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah, “Rabb-ku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu (Muhammad) berdebat tentang hal mereka, kecuali perdebat lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22)

Berlindung di Gua

Setelah mereka sepakat bahwa tidak mungkin tetap tinggal bersama kaum mereka yang menyembah berhala, maka para pemuda tersebut bermusyawarah diantara mereka, dan memutuskan untuk berlindung di dalam sebuah gua demi menyelamatkan akidah dan keyakinan mereka. Setelah sebelumnya mereka berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan Kami (ini).” (Al-Kahfi: 10)


Lalu Allah subhanahu wa ta’ala pun mengabulkan doa mereka dan memudahkan urusan mereka. Mereka berlindung di dalam sebuah gua yang cukup luas sehingga mereka bisa tinggal dengan nyaman di dalamnya. Allah juga menidurkan mereka di dalam gua tersebut, sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (Al-Kahfi: 11)

Maksudnya Allah subhanahu wa ta’ala menidurkan mereka.

Penjagaan Allah terhadap Mereka

Para pembaca rahimakumullah, dalam tidurnya yang sangat panjang tersebut Allah menjaga tubuh mereka agar tidak rusak. Di antara bentuk penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala adalah:

1. Sinar matahari tidak masuk ke dalam gua, sehingga tidak langsung mengenai tubuh mereka, dengan demikian mereka pun tidak merasa kepanasan dengan sengatan sinar matahari.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al-Kahfi: 18)


Para pembaca rahimakumullah, sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa mereka ditidurkan oleh Allah, namun dengan kekuasaan-Nya, Allah menjadikan orang yang melihat mereka mengira bahwa mereka dalam terbangun.

Sebagaimana di dalam firman-Nya (artinya):

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur.” (Al-Kahfi: 17)

Mengapa demikian? Para ahli tafsir mengatakan hal itu terjadi karena mata mereka terbuka.
(lihat Tafsir as-Sa’diyWallahu a’lam.

2. Penjagaan Allah agar tubuh mereka tidak dimakan tanah, yaitu dengan dibolak-balik tubuh mereka dalam tidur panjangnya itu, sehingga tubuh mereka tidak rusak dimakan tanah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua kakinya di muka pintu gua.” (Al-Kahfi: 18)

3. Penjagaan Allah terhadap mereka dari orang-orang yang ingin mendekati mereka dengan adanya rasa takut sehingga tidak berani mendekati mereka.

“Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (Al-Kahfi: 18)

Lama Mereka Tinggal di Gua

Mereka tinggal di dalam gua itu dalam keadaan tertidur selama tiga ratus sembilan tahun (309 tahun), Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan mereka tinggal dalam gua tersebut (selama) tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”(Al-Kahfi: 25)

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala membangunkan mereka agar saling bertanya-tanya di antara mereka sudah berapa lamakah mereka tinggal di dalam gua?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?).” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini).” (Al-Kahfi: 19)

Kemudian mereka merasakan lapar, lalu diutuslah salah seorang di antara mereka dengan membawa uang perak untuk membeli makanan.

Maka didapati oleh pemuda tersebut negeri (yaitu negeri Diqsus) yang sudah berubah, penduduknya pun telah berganti, tidak dia dapati lagi pemerintah yang mengenali mereka, dan tidak seorang pun yang dia kenal dari penduduk negeri tersebut.

Maka suruhlah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorang pun.
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempat kalian, niscaya mereka akan melempar kalian dengan batu, atau memaksa kalian kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kalian tidak akan beruntung selama lamanya.
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.” (Al-Kahfi: 19-21)

Demikianlah saudara pembaca kisah tentang Ashabul Kahfi yang mereka beriman kepada Allahsubhanahu wa ta’ala dan mereka jujur dengan keimanannya tersebut, maka Allah subhanahu wa ta’alabalas keimanan dan kejujuran mereka dengan menyelamatkan mereka, dan memuliakannya dengan menjadikan mereka sebagai teladan bagi orang-orang yang beriman hingga hari kiamat.

Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini:

1. Kebenaran adanya hari kiamat, yang manusia pada hari itu dibangkitkan dari kubur-kuburnya. Hal ini sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dibangkitkannya Ashhabul Kahfi setelah mereka tidur selama 309 tahun.

2. Menangnya orang-orang yang beriman terhadap orang-orang kafir, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memenangkan tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi dari kaum mereka yang kafir yang menghalangi mereka untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah subhanahu wa ta’alamelindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk).

4. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah bagi agama seseorang. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.

5. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allahsubhanahu wa ta’ala.

6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil: “Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kalian.” (Al-Kahfi: 19)

7. Bolehnya mewakilkan dalam hal jual-beli.

8. Adab bagi orang yang tidak mengetahui ilmu tentang sesuatu untuk mengembalikan kepada ulama.
Dan masih banyak faedah yang lainnya. Semoga yang kami sebutkan di atas bisa memberi manfaat.

          Wallahu a’lamu bish shawab.

Penulis: Al-Ustadz Abu ‘Umar Muhammad hafizhahullah.
sumber: http://www.buletin-alilmu.com

Jumat, 27 April 2012

Hasan Al-Bashri

|0 komentar
Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110 H, Hasan AlBasri memenuhi panggilan Robbnya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan AlBasri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni....

----------

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan "maula" (pembantu wanita)nya telah melahirkan seorang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. 

"Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?" tanya Ummu Salamah. "Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya" jawab Khairoh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseriseri, seraya berujar "Dengan berkah Allah, kita beri nama AlHasan." Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pemberian nama.

AlHasan bin Yasar-atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan AlBasri, ulama generasi salaf terkemuka-hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah
Salallahu alaihi wasalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau
adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal - sebelum Islam - sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Salallahu alaihi wasalam.

Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubungan antara AlHasan dengan keluarga Nabi
Salallahu alaihi wasalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber"uswah" (berteladan) pada keluarga Rasulullah Salallahu alaihi wasalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumahrumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat AlHasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa AlAsy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat Rasulullah lainnya. 


AlHasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, katakatanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat AlHasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, AlHasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah AlHasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan AlBasri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjidmasjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqahhalaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.


Di Basrah, Hasan AlBasri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqahnya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan AlBasri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabatsahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan AlBasri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan AlBasri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan AlBasri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan AlBasri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika AlHajaj atsTsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menentangnya. Hasan AlBasri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada AlHajaj. Bahkan di depan AlHajaj sendiri, Hasan AlBasri pernah mengutarakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana AlHajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan AlBasri menyuarakan kritiknya terhadap AlHajaj:


"Kita telah melihat apaapa yang telah dibangun oleh AlHajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …"


Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan AlBasri, "Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!" Namun beliau menjawab, "Sungguh Allah telah mengambil janji dari orangorang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, AlHajaj menghardik para ajudannya, "Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seorangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!" .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati bergetar. Hasan AlBasri berdiri tegak dan tenang menghadapi AlHajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenangan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan AlBasri, seketika kecongkakan AlHajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan AlBasri dan berkata lembut, "Kemarilah ya Abu Sa’id …" AlHasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.

Mulailah AlHajaj menanyakan berbagai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan AlBasri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaannya dijawab dengan tuntas. Hasan AlBasri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal AlHajaj bertanya, "Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan AlHajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?" Hasan AlBasri menjawab, "Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim."

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintahperintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, "Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadangkadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …"

Berkata Hasan AlBasri, "Wahai Ibnu Hubairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazidketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memeliharamu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya." Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan AlBasri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110 H, Hasan Al Basri memenuhi panggilan Robbnya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Sumber: myquran.org

Umar bin Abdul Aziz dan 'Penguburannya Hidup-Hidup'

|0 komentar
Kejadian ini terjadi pada masa Al-Walid bin Abdul Malik, saat dihadirkan dimajelisnya seorang laki-laki dari khawarij yang diancam dengan hukuman mati. Al-Walid melihat kepadanya dan menanyainya dengan sekumpulan pertanyaan yang telah dia siapkan untuk membunuhnya, dan dia tidak mungkin selamat darinya.

“Apa yang kamu katakan tentang Abu Bakar?” Dia menjawab: “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam goa, orang kedua saat keduanya berada di dalam goa, mudah-mudahan Allah merahmatinya dan mengampuninya.”

Dia bertanya lagi: Apa yang kamu katakan tentang Umar? Dia menjawab, “Dia adalah al-faruq, mudah-mudahan Allah merahmati dan mengampuninya.”

Dia bertanya lagi: Apa yang kamu katakan tentang Utsman? Dia menjawab, “Beberapa tahun diawal pemerintahannya dia memerintah dengan adil.”

Kemudian datanglah pertanyaan yang mematikan: “Apa yang kamu katakan tentang Marwan bin al-Hakam (yakni kakek al-Walid)?” orang khawarij tersebut menjawab tanpa ragu-ragu, “Mudah-mudahan Allah melaknat orang tersebut”.

Al-Walid menahan amarahnya, kemudian menanyainya: “Apa yang kamu katakan tentang Abdul Malik (ayah al-Walid)?” Maka dia menjawab, “Dia adalah putranya, mudah-mudahan Allah melaknatnya.”

Kemudian dia lebih mendekat seraya bertanya: “Apa yang kamu katakan tentangku?” Dia menjawab tanpa ragu-ragu, “Dia adalah putra dari orang itu, dan engkau adalah orang ketiga yang terburuk.”

Di dalam majelis kala itu ada Umar bin Abdul Aziz, dan Khalid bin Rayyan (algojo al-Walid). Maka menolehlah al-Walid dan berkata kepada Umar bin Abdul Aziz: “Wahai Umar, sungguh engkau telah mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu, maka apa yang kamu katakan?” Maka Umar bin Abdul Aziz menjawab dengan tenang, “Wahai Amirul Mukminin, tidak ada seorang pun yang lebih tahu tentang ini selain anda, anda adalah orang yang lebih faham tentangnya.”

Al-Walid pun semakin keras dalam bertanya: “Kamu harus mengucapkan dengan jelas apa pendapatmu?” yang dia inginkan adalah agar keputusan untuk membunuh lelaki tersebut dengan pendapat orang-orang di sekelilingnya.

Akan tetapi Umar merendahkannya dan berkata, “Jika engkau terus mendesak pendapatku, maka kukatakan, cacilah bapaknya sebagaimana dia telah mencaci bapak-bapakmu, dan jika engkau memaafkannya, maka itu lebih dekat kepada taqwa.” Maka Al-Walid terpojok dan berkata, “Tidak ada lain kecuali ini…(maksudnya hukum bunuh).” Maka Umar menariknya dan berkata dengan berani, “Tidak Wahai Amirul Mukminin ini adalah ini adalah sebuah kesewenangan, adapun yang hak, maka tidak ada lain kecuali ini…” Maksudnya bukan termasuk hakmu membunuh seseorang hanya karena sebuah kalimat yang dia ucapkan.

Kemudian al-Walid menoleh kepada Khalid bin ar-Rayyan, dan membuat tanda-tanda kemurkaan yang memancar dari wajah yang sedang marah. Maka tatkala al-Walid pergi, berkatalah Khalid bin ar-Rayyan kepada Umar, “Demi Allah dia telah melihat kepadaku dengan sebuah pandangan seakan-akan dia ingin membunuhmu.” Maka Umar berkata, “Apakah engkau akan menjadi pembunuhku?” Dia menjawab, “Ya, tanpa ragu-ragu dan dengan
perintah khalifah.” Maka Umar berkata, “Sebuah keburukan bagi kalian berdua, dan sebuah kebaikan bagiku.

Maka tatkala Umar pergi dalam keadaan selamat, dia tetap tinggal dirumahnya untuk beberapa hari, dia tidak masuk ke istana khalifah. adapun al-Walid, dia kembali ke istrinya, yaitu Ummul Banin binti Abdul Aziz, dan dia adalah saudari Umar. Maka al-Walid berkata kepadanya, “Saudaramu itu adalah orang haruri (yang dia maksud adalah seorang khawarij, karena dia berbicara dengan adil dan menolong yang tertindas), demi Allah aku benar-benar akan membunuhnya.”

Beberapa hari setelah itu, datanglah utusan al-Walid kepada Umar untuk mengundangnya. Maka tatkala Umar masuk ke istana, para pengawal mengikuti di kanan kirinya. Mereka berkata, “Dari sini khalifah ingin melihatmu.” Maka merekapun memasukkaknnya ke dalam sebuah ruangan, kemudian mereka menutup lorong pintu, lalu menyemen pintu dengan tanah, maka berubahlah penjara menjadi tempat pekuburan.

Dari sinilah, saudari Umar mulai mencari-carinya, maka tidak ada yang menunjukkan tempatnya kecuali maula-maula (mantan-mantan budak) yang sudah dikebiri yang bekerja ditengah kaum wanita. Maka masuklak istri al-Walid kepada al-Walid, memelas kepadanya, meminta belas kasihan kepadanya, kemudian dia menjatuhkan wajah dihadapannya, menciumi kedua tangannya dan meminta belas kasihan untuk saudaranya. Maka al-Walid pun melihat kepadanya dengan kemurkaan, seyara berkata, “Pergilah kamu kepadanya, aku telah membebaskannya, mudah-mudahan dia masih hidup hingga bisa diberi rizqi.”

Maka tatkala mereka memasuki ruangan tersebut, dan membongkar tanahnya, maka Umar dalam keadaan pada nafas-nafas terakhir, melemas terkulai.

Kemudian berputarlah hari demi hari, binasalah al-Walid, kemudian saudaranya, Sulaiman, lalu kekhalifahan jatuh ke tangan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Datanglah Khalid bin ar-Rayyan pada hari kekhilafahannya dengan memanggul pedang. Maka berkatalah Umar kepadanya, “Wahai Khalid, pergilah dengan pedangmu ini (dia adalah seorang yang mudah menghunus pedang, sebagaiman telah kita ketahui tugasnya adalah memenggal leher-leher hanya karena sebuah kalimat), dan letakkanlah dirumahmu. Lalu duduklah kamu didalamnya, karena kami tidak butuh denganmu. Engkau adalah seorang laki-laki yang jika diperintahkan untuk sesuatu, engkau langsung melaksanakannya tanpa melihat kepada agamamu.”

Maka tatkala Khalid pergi, Umar melihat kepada tengkuk Khalid seraya berdoa, “Ya Allah, ya Rabbku, sungguh aku telah meletakkannya untuk-Mu, maka janganlah Engkau mengangkatnya untuk selamanya.” Maka tidaklah dia hidup selama satu jum’at kecuali dia terkena penyakit lumpuh, dia tidak bisa disembuhklan, kemudian mati.
Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan rahmat yang luas. Dia adalah khalifah yang paling adil dan paling rahmat setelah keempat Khalifah. 


http://www.oaseqalbu.net/

Sabtu, 04 Februari 2012

Abu Thalhah al-Anshary

|0 komentar

Zaid bin Sahal an-Najjary alias Abu Thalhah mengetahui bahwa perempuan bernama Rumaisha' binti Milhan an-Najjariyah, alias Ummu Sulaim, hidup menjanda sejak suaminya meninggal. Abu Thalhah sangat gembira mengetahui Ummu Sulaim merupakan perempuan baik-baik, cerdas, dan memiliki sifat-sifat perempuan yang sempurna.
Abu Thalhah bertekad hendak melamar Ummu Sulaim segera, sebelum laki-laki lain mendahuluinya. Karena, Abu Thalhah tahu, banyak laki-laki lain yang menginginkan Ummu Sulaim menjadi istrinya. Namun begitu, Abu Thalhah percaya tidak seorang pun laki-laki lain yang akan berkenan di hati Ummu Sulaim selain Abu Thalhah sendiri. Abu Thalhah laki-laki sempurna, menduduki status sosial tinggi, dan kaya raya. Di samping itu, dia terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan di kalangan Bani Najjar, dan pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan.

Abu Thalhah pergi ke rumah Ummu Sulaim. Dalam perjalan ia ingat, Ummu Sulaim pernah mendengar dakwah seorang dai yang datang dari Mekah, Mushab bin Umair. Lalu, Ummu Sulaim beriman dengan Muhammad dan menganut agama Islam. Tetapi, stelah berpikir demikian, dia berkata kepda dirinya, "Hal ini tidak menjadi halangan. Bukankah suaminya yang meninggal menganut agama nenek moyangnya? Bahkan, suaminya itu menentang Muhammad dan dakwahnya.

Abu Thalhah tiba di rumah Ummu Sulaim. Dia minta izin untuk masuk, maka diizinkan oleh Ummu Sulaim. Putra Ummu Sulaim, Anas, hadir dalam pertemuan mereka itu. Abu Thalhah menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu hendak melamar Ummu Sulaim menjadi istrinya. Ternyata Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah.

Kata Ummu Sulaim, "Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, wahai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir."

Abu Thalhah mengira Ummu Sulaim hanya sekedar mencari-cari alasan. Mungkin di hati Ummu Sulaim telah berkenan laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih mulia daripadanya.

Kata Abu Thalhah , "Demi Allah! Apakah yang sesungguhnyayang menghalangi engkau untuk menerima lamaranku, hai Ummu Sulaim?"
Jawab Ummu Sulaim, "Tidak ada, selain itu."
Tanya Abu Thalhah, "Apakah yang kuning ataukah yang putih ...? Emas atau perak?"
Ummu Sulaim balik bertanya, "Emas atau perak ...?"
"Ya, emas atau perak?" jawab Abu Thalhah menegaskan.
Kata Ummu Sulaim, "Kusaksikan kepada Anda, hai Abu Talhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan perak, cukuplah emas itu menjadi mahar bagiku."

Mendengar ucapan dari Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung sembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan-bangsawan kaumnya, Bani Najjar.

Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan Abu Talhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong melihat berhala sesembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya, "Tidak tahukah Anda, wahai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang tumbuh di bumi?" Tanya Ummu Sulaim.
"Ya, Betul!" jawab Abu Thalhah.
"Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak? Jika Anda masuk Islam, hai Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain itu," kata Ummu Sulaim.
"Siapakah yang harus mengislamkanku?" Tanya Abu Thalhah.
"Aku bisa," jawab Ummu Sulaim.
"Bagaimana caranya?" tanya Abu Thalhah.
"Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadah! Saksikan tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!" kata Ummu Sulaim menjelaskan.

Abu Thalhah tampak gembira. Lalu, dia mengucapkan dua kalimat syahadah. Sesudah itu Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata, "Belum pernah kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar kawin Ummu Sulaim. Maharnya ialah masuk Islam.

Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada padanya dikorbankan untuk berkhidmat kepada Islam.

Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim, termasuk kelompok tujuh puluh yang bersumpah setia (baiat) dengan Rasulullah di Aqabah. Abu Thalhah ditunjuk Rasulullah menjadi kepala salah satu regu dari dua belas regu yang dibentuk malam itu atas perintah Rasulullah saw. untuk mengislamkan Yatsrib.

Dia ikut berperang bersama Rasulullah saw. dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau. Dalam peperangan itu, tidak urung pula Abu Thalhah mendapatkan cobaan-cobaan yang mulia. Tetapi, cobaan yang paling besar diderita Abu Thalhah ialah ketika berperang bersama Rasulullah dalam Perang Uhud. Dengarkanlah kisahnya!

Abu Thalhah mencintai Rasulullah saw. sepenuh hati, sehingga perasaan cintanya itu mengalir ke segenap pembuluh darahnya. Dia tidak pernah merasa jemu melihat wajah yang mulia itu, dan tidak pernah merasa bosan mendengar hadis-hadis beliau yang selalu terasa manis baginya. Apabila Rasulullah saw. berdua saja dengannya, dia bersimpuh di hadapan beliau sambil berkata, "Inilah dariku, kujadikan tebusan bagi diri Anda dan wajahku pengganti wajah Anda."

Ketika terjadi Perang Uhud, barisan kaum muslimin terpecah-belah. Mereka lari kocar-kacir dari samping Rasulullah saw. Oleh karena itu, kaum muslimin sempat menerobos pertahanan mereka sampai ke dekat beliau. Musuh berhasil menciderai beliau, mematahkan gigi, melukai dahi, dan bibir beliau, sehingga darah mengalir membasahi mukanya. Lalu kaum musyrikin menyiarkan isu Rasulullah saw. telah wafat.

Mendengar teriakan Rasulullah saw. itu, kaum muslimin menjadi kecut, lalu lari porak-poranda memberikan punggung mereka kepada musuh-musuh Allah. Hanya beberapa orang saja tentar muslimin yang tinggal mengawal dan melindungi Rasulullah. Di antara mereka adalah Abu Thalhah yang berdiri paling depan.

Abu Thalhah berada di hadapan Rasulullah bagaikan sebuah bukit berdiri dengan kokohnya melindungi beliau. Rasulullah berdiri di belakangnya, terlindung dari panah dan lembing musuh oleh tubuh Abu Thalhah. Abu Thalhah menarik tali panahnya, kemudian melepaskan tali anak panah tepat mengenai sasaran tanpa pernah gagal. Dia memanah musuh satu demi satu. Tiba-tiba Rasulullah saw. mendongakkan kepala melihat siapa sasaran panah Abu Thalhah.

Abu Thalhah mundur menghampiri beliau, karena khawatir beliau terkena panah musuh. "Demi Allah, janganlah Rasulullah saw. mendongakkan kepala melihat mereka, nanti terkena panah mereka. Biarkan leher dan dakaku sejajar dengan leher dan dada Rasulullah saw. Jadikan aku menjadi perisai Anda," ujarnya mantap.

Seorang prajurit muslim tiba-tiba lari ke dekat Rasulullah saw. sambil membawa kantong anak panah. Rasulullah memanggil prajurit itu. Kata beliau, "Berikan anak panahmu kepada Abu Thalhah. Jangan dibawa lari!" Abu Thalhah senantiasa melindungi Rasulullah saw. sehingga tiga batang busur panah patah olehnya, dan sejumlah prajurit musyrikin tewas dipanahnya.

Allah menyelamatkan dan memelihara Nabi-Nya yang selalu berada dibawah pengawasan-Nya sampai pertemuan usai.

Abu Thalhah sangat pemurah dengan nyawanya berperang fisabilillah, namun lebih pemurah lagi mengorbankan hartanya untuk agama Allah. Abu Thalhah mempunyai sebidang kebun kurma dan anggur yang amat luas. Tidak ada kebun di Yatsrib seluas dan sebagus kebun Abu Thalhah. Pohon-pohonnya rimbun, buah-buahnya subur, dan airnya manis.

Pada suatu hari ketika Abu Thalhah salat di bawah naungan sebatang nan rindang, pikirannya terganggu oleh siulan burung berwarna hijau, berparuh merah, dan kedua kaikinya indah berwarna. Burung itu melompat dari dahan ke dahan dengan suka citanya, bersiul-siul dan menari-nari. Abu Thalhah kagum melihat burung itu. Dia membaca tasbih, tetapi pikirannya tidak lepas dari burung itu.

Ketika menyadari bahwa ia sedang salat, dia lupa sudah berapa rakaat salatnya. Dua atau tiga rakaatkah dia tak ingat. Selesai salat dia pergi menemui Rasulullah saw. dan menceritakan kepada beliau peristiwa yang baru dialaminya dalam salatnya. Diceritakannya pula kepada beliau pohon-pohon nan rindang dan burung yang bersiul sambil menari-nari ketika dia sedang salat.

Kemudian katanya, "Saksikan wahai Rasulullah! Kebun itu aku sedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pergunakanlah sesuai kehendak Allah dan Rasul-Nya."

Abu Thalhah sering berpuasa dan berperang sepanjang hidupnya. Bahkan, dia meninggal ketika sedang berpuasa dan berperang fisabilillah.

Pada zaman khalifah Utsman bin Affan, kaum muslimin bertekad hendak berperang di lautan. Abu Thalhah bersiap-siap untuk turut dalam peperangan itu bersama-sama dengan tentara muslimin.

Kata anak-anaknya, "Wahai Bapak kami!" Bapak sudah tua. Bapak sudah turut berperang bersama-sama Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Kini Bapak harus beristirahat. Biarlah kami berperang untuk Bapak."

Jawab Abu Thalhah, "Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman, yang artinya, 'Berangkatlah kamu dalam keadaan senang dan susah, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu menyadari.' (At-Taubah: 41). Firman Allah itu memeritahkan kita semua, baik tua maupun muda. Allah tidak membatasi usia kita untuk berperang."

Abu Thalhah menolak permintaan anak-anaknya untuk tinggal di rumah, dan bersikeras untuk ikut berperang.

Ketika Abu Talhah yang sudah lanjut usia itu berada di atas kapal bersama-sama dengan tentara muslimin di tengah lautan, dia jatuh sakit, lalu meninggal di kapal. Kaum muslimin melihat-lihat daratan, mencari tempat memakamkan Abu Thalhah. Tetapi, enam hari setelah wafatnya, barulah mereka bertemu dengan daratan. Selama itu jenazah Abu Thalhah disemayamkan di tengah-tengah mereka di atas kapal tanpa berubah sedikit pun jua. Bahkan, dia layaknya seperti orang yang tidur nyenyak saja. Di mana beliau dimakamkan?

Di tengah lautan luas
Jauh famili dan kampung halaman
Jauh handai beserta tolan
Abu Thalhah dimakamkan, biarlah jauh dari mereka, asalkan dekat kepada Allah, ia tak akan celaka.

Sumber: Shuwarum min Hayatis Shahabah, Abdurrahman Ra'fat Basya